Hadiah Istimewa
Perkenalkan nama penaku adalah Saffana, yang
artinya mutiara, aku berasal dari keluarga yang sederhana. Kali ini aku akan
menceritakan sedikit tentang perjalanan ayahku. Ayahku seorang mualaf sebelum
akhirnya menikah dengan ibuku. Izinkan aku berbagi cuplikan kisah yang tidak
terlupakan sepanjang hidupku ya, kawan. Semoga bermanfaat ^^
Ayahku masih dalam tahap belajar dan perlahan
mengenal islam, semoga Allah istiqomahkan dan memudahkan langkah beliau dalam
menapaki jalan kebenaran, aamiin Allahumma aamiin. Tentunya ada banyak kendala
dan lika liku yang dihadapi, tapi aku sangat salut dengan keyakinan beliau
terhadap Allah dan juga kesabaran beliau menerima segala takdir yang Allah
tetapkan. Memang tidak mudah dan harus pelan-pelan, karena jarak beliau yang jauh
dari keluarga dan lingkungan beliau yang belum mendukung sepenuhnya, mungkin
menjadi kendala untuk beliau dalam meraih keistiqomahan.
Beliaupun masih dalam proses belajar shalat, perlahan-lahan
mendengerkan ceramah. Dalam proses hijrahku, aku memikirkan banyak hal terutama
kedua orangtuaku. Ketika Allah menetapkan takdir, maka itulah yang terbaik bagi
hambaNya, termasuk takdir yang Allah tetapkan untukku. Mungkin dengan keadaan
yang seperti ini, Allah mengantarkan aku ke jalan yang Allah ridhoi, menapaki
jalan hijrah yang penuh lika-liku. Bagaikan tahunan terperangkap dalam dalam
jalan yang gelap tanpa lampu, namun sejak Allah berikan hidayah seperti
mendapatkan lentera yang tidak pernah habis terangnya. Saat itulah aku mulai
pelan-pelan merangkak mempelajari dari awal, seperti orang yang baru mengenal
islam padahal agama ini sudah kuanut sejak lahir. Tidak ada terlambat untuk
menuntut ilmu sebelum nyawa di kerongkongan, termasuk Allah senantiasa
memberikan kesempatan kepada ayah, ibu dan keluargaku, semoga Allah berikan
hidayah kepada mereka.
Apabila berhijrah sendiri tanpa bersama
keluarga seperti kehilangan salah satu bagian puzzle terasa ada yang kurang,
timbullah keinginan untuk mengajak orang-orang terkasih tanpa memaksa. Ustadz
Muhammad Abduh Tuasikal pernah menyampaikan ketika ingin mendakwahi seseorang,
dekati dulu dan sentuh hatinya dengan kelembutan, bukan ditekan. Oleh karena
itu, mencari ide bagaimana cara mendakwahi ayah dan orang-orang terkasih,
kemudian Allah berikan petunjuk melalui buku. Memang tidak semua buku menjadi
hal yang spesial bagi penerimanya, tapi di dalam buku tertulis banyak makna dan
ilmu yang tidak kita sadari. Tepat saat itu ayah menginginkan buku, akupun
bersemangat mencarikan beliau buku permintaannya dan buku sebagai hadiah
dariku, aku menyadari tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk membahagiakan
dan membalas semua jasa kedua orangtuaku, namun aku berharap dengan perantara
buku ini kita bisa pelan-pelan bersama menuju surga Allah. Aku meminta sahabat
ku untuk memilihkan buku yang cocok untuk orang yang baru mengenal islam,
akhirnya pilihanku jatuh pada Kitab Tauhid Jilid 1 karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan. Kusisihkan sedikit dari uang gajianku,
selain buku aku belikan ayah peci dan sajadah yang kecil agar tetap bisa
melaksanakan sholat.
Kebahagiaanku
bisa dimulai dari hal-hal kecil yang sederhana, yang mungkin bagi orang lain
itu sesuatu hal yang biasa aja. Bisa melaksanakan ketaatan dan menuntut ilmu
bersama sudah cukup membuatku tersenyum dan menjadi kenangan terindah dalam
hidupku. Sebelum mengirimkan hadiah tersebut melalui ekspedisi, aku menulis
sepucuk surat yang berisi semua harapanku bersama orang yang aku sayangi yaitu
ayah, tidak untuk memaksakan namun sebagai ungkapan syukur dan rasa sayang
kepada ayah. Untuk bagaimana cerita selanjutnya sudah aku pasrahkan kepada
Allah, semoga dengan ini bisa membantu beliau mendapatkan hidayah.
Cara seseorang
untuk berbakti kepada kedua orangtua itu beraneka ragam cara dan jalannya, bisa
dengan merawatnya di usia senja, memberikan nafkah dari sebagian rezeki yang
dimiliki, mendoakan, memohonkan ampunan, mematuhi segala perintah dan
larangannya, beradab & berakhlak yang baik kepada orangtua, menjalin
hubungan dengan kerabat dan teman-temannya sepeninggal mereka dan banyak cara
lain yang bisa mendulang banyak pahala. Hadiah istimewa yang aku berikan untuk
ayah, aku tahu itu hanya bagian kecil yang tidak ada artinya dan tidak mungkin
sebanding dengan apa yang beliau korbankan untuk kehidupanku. Semoga dengan
hadiah istimewa dan baktiku bisa meraih ridha ayah dan ibu. Kedua orang tua yang
rela mengorbankan cahayanya untuk kehidupan anak-anaknya, namun aku sebagai
anak tidak akan mampu menerangi kehidupan mereka. Jadi jangan pernah merasa
sudah banyak pengorbanan yang dilakukan sebagai anak, dengan membanggakan karena
merasa sudah banyak berkorban untuk keduanya seperti setetes air di lautan
perjuangan ayah dan ibu, maksudnya tidak ada apa-apanya. Jangan sampai menyesal
ketika nanti merindukan seseorang yang sudah kembali kepada Allah, seperti
ibuku rahimahallah. Tidak banyak hal yang bisa aku lakukan selain
mendoakan, memohon ampun, bersedekah dan menjaga hubungan baik dengan
orang-orang yang mengenalnya. Hanya satu pintu surgaku yang tersisa, yaitu ayah
yang menjadi penopang kakiku yang pincang karena tertutup satu pintu surgaku.
Aku memohon maaf
apabila selama menjadi anak banyak sekali hal yang membuat ayah dan ibu
terluka, kecewa dan belum bisa membahagiakan ayah dan ibu. Lewat tulisan ini,
aku berharap secuil kisah ini bisa menjadi hal yang tidak pernah aku lupakan
dan menyatakan segelintir rasa sayangku kepada ayah dan ibu. Hanya untaian doa
dan pengorbanan, selagi ayah dan ibu masih ada yang bisa aku lakukan, semoga
Allah menyayangi kalian berdua seperti ayah dan ibu menyayangiku. Dan Allah
panjangkan umur ayah dan memberkahi umur beliau.Tidak banyak yang bisa
dituliskan disini, karena aku tahu sebanyak apapun tulisan tidak akan pernah
setara dengan perjuanganmu, wahai ayah. Terimakasih sudah menjadi cinta pertama
terindah yang pernah aku miliki, semua kekuranganmu seperti bintang dilangit
yang kalah dengan satu rembulan yang bersinar sangat terang menerangi
kehidupanku hingga saat ini.Terimakasih tidak pernah lelah mendidik, menasehati
dan memberikan yang terbaik hingga detik ini. I love you ayah
Jazaakumullahu khayraan
untuk semua pihak yang mendukung tulisan ini.
Comments
Post a Comment