Pulanglah Sebelum Terlambat
Perkenalkan nama penaku adalah Saffana, yang artinya mutiara, aku adalah seorang anak pertama yang memiliki 2 adik dengan latar belakang keluarga yang sederhana, setelah lulus dari SMA, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan kimia murni di salah satu universitas swasta yang ada di Yogyakarta selama ± 4 tahun. Keluargaku jarang berkumpul dalam satu rumah kecuali saat ayah cuti bekerja, aku, ibu dan adikku berada di pulau jawa dan ayahku berada di pulau Kalimantan, karena tuntutan ekonomi kita jarang berkumpul dan sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak mengapa, itu menjadi semangat agar aku bersungguh-sungguh dan semakin berbakti kepada mereka. Izinkan aku berbagi cuplikan kisah yang tidak terlupakan sepanjang hidupku ya, kawan. Semoga bermanfaat ^^
Setelah melewati berbagai
proses perkuliahan, yang diimpikan mahasiswa/I akan segera terwujud, wisuda dan
mendapatkan gelar. Wisuda bagi sebagian orang menjadi fase terakhir dalam
mengenyam pendidikan, namun bagiku ini menjadi titik awal langkah kita
menjajaki dunia yang lebih luas. Dengan bekal ilmu yang sudah dipelajari, kini
saatnya kita mengamalkan ilmu tersebut. Dunia kerja bukan termasuk hal baru
untukku, karena semasa duduk di dunia perkuliahan, aku sudah membagi waktu
untuk kuliah, bekerja dan belajar agama. Apabila tanpa pertolongan Allah,
mungkin diri ini tidak akan mampu untuk menjalankan semua kegiatan yang ada.
Kuliah dan bekerja kulakukan untuk membantu orangtuaku, aku menyadari bahwa
biaya kuliah tidak sedikit dan cukup menguras tenaga dan pikiran mereka untuk
membiayaku berkuliah. Apalagi dengan hidup jauh dari orangtua, tentunya kita
dituntut untuk berpikiran dewasa, hidup sederhana, sabar dan yang paling
penting menjaga diri kita dari pergaulan yang merugikan dan memprioritaskan
Allah dalam setiap keadaan.
Setelah memperoleh gelar
sarjana sains (S.Si) di belakang namaku, ayah mengarahkanku untuk berangkat
merantau ke Kalimantan di tempat kelahiran ayahku, selain untuk bekerja, aku
juga ingin dekat dan merawat ayah, selama ini ayah hidup sendirian dan terpisah
dari keluarga. Tempat ayah bekerja ditempuh selama ± 9 jam dari tempatku bekerja, ayah biasa menginap ditempat
kerjaku karena masih sepupu ayah, aku tinggal di mess yang sudah disediakan.
Hari-hari kujalani dengan berbagai aktifitas di pekerjaan, belajar agama online
dan kegiatan yang lain. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, rasanya masih ada waktu 2 bulan sebelum memasuki
bulan Ramadhan,namun sekarang bulan itu sudah di depan mata. Di bulan Ramadhan itu,
ibuku memintaku untuk pulang ke rumah. Namun, permintaan tersebut belum bisa
aku segerakan karena masih dalam proses training 3 bulan.
Suasana Ramadhanpun masih
kental dirasakan dengan rasa syukur yang menyelimuti hati ini saat masih Allah
berikan kesempatan untuk bertemu dan menjalankan ibadah di bulan yang mulia
ini. Waktupun bergulir begitu cepat, Ramadhan segera pergi, entah apakah masih
bertemu atau tidak di tahun berikutnya. Ada yang beda di momen Ramadhan dan
Idul Fitri tahun ini, pertama kali tidak Bersama keluarga di Jawa, dan ayahpun
belum bisa pulang karena cutinya bergantian. Tak mengapa, dengan langkah ini
aku harap dapat mengurangi beban yang kedua orangtuaku rasakan.
Saat itu di masa pandemi
covid-19, jadi masih dibatasi interaksi kami untuk bertatap muka, demi kebaikan
Bersama. Di bulan Mei 2021, orang yang terinfeksi wabah ini semakin tinggi
karena masih ada Sebagian orang yang tidak membatasi interaksi tersebut,
menganggapnya biasa saja padahal sudah menelan banyak korban. Wabah tersebut
semakin meluas penyebarannya, kasus positif kian bertambah dari hari ke hari.
Tiba-tiba adikku memberikan kabar bahwa ibu jatuh sakit, tidak pernah menyangka
bahwa ibukku memiliki penyakit dalam paru-parunya, karena beliau tidak
menyampaikan apabila sedang sakit. Ibu juga terinfeksi virus tersebut karena
sudah ada penyakit bawaan di paru-parunya jadi memudahkan virus tersebut
menyebar di paru-paru beliau, saat itu pula aku sedang sakit. Saat itu yang
bisa aku lakukan hanya berdoa kepada Allah agar memulihkan kondisiku dan
menyembuhkan ibu.
Saat aku sakit bertepatan
dengan ayah mendapatkan cuti, sehingga ayah dating ke tempat kerjaku di
Balikpapan dan ayah pun mulai kembali lagi ke Samarinda Ulu saat kondisiku
mulai membaik. Ayahpun mulai kembali ke tempat kerjanya dan esok harinya ayah
mulai bekerja, di hari itu juga adikku mengabari bahwa keadaan ibu makin
memburuk karena saturasi oksigen ibu semakin menurun dari hari ke hari,
berulang kali kami membujuk agar ibu bersedia melakukan perawatan di rumah
sakit dan berulang kali pula ibu menolak karena alasan tidak ada biaya. dan ibu masih belum mau untuk ke rumah
sakit. Akhirnya, aku membujuknya untuk
ke rumah sakit, agar ibu segera sembuh dan aku akan pulang sesegera mungkin.
Kerabatku memintaku pulang besok paginya dan sudah membelikan tiket pesawat
agar ayah dan aku bisa pulang ke jawa. Akupun mengabari ayah, dan sore itu juga
ayah Kembali lagi ke Balikpapan karena esok hari harus pulang ke Jawa,
adik-adikku mengurus ibu di Jawa dan mengurus semua administrasi rumah sakit
agar ibu segera mendapatkan penanganan.
Saat mendengar ibu sakit,
aku dan ayah segera mencari pinjaman uang ke kerabat dan teman-teman ayah,
untuk dikirim ke Jawa karena ayah dan aku belum gajian. Saat mendengar ibu
sakit sudah membuatku sulit tidur karena jarak yang jauh dan khawatir dengan
keadaan ibu dan adik-adikku. Malamnya akupun melakukan test PCR sebagai syarat
melakukan penerbangan, ayah menyusul karena belum sampai. Alhamdulillah, hasil
tes ku dan ayah negative, jadi kami bisa melakukan penerbangan besok. Mata ini
pun tidak mau terpejam dan standby menunggu kabar yang melintas di layar HP.
Pukul 3 pagi adikku menginfokan keadaan ibu yang semakin menurun oksigennya,
namun aku berusaha menenangkannya dengan menginfokan kepulanganku ke Jawa.
Penerbangan pun berjalan
lancar, aku akhirnya sampai di Jawa dan meneruskan perjalanan menggunakan mobil
kurang lebih 4 jam untuk sampai ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit,
kami tidak bisa langsung menemui ibu karena peraturan Rumah Sakit di kala
pandemic begitu ketat untuk kebaikan bersama juga agar tidak semakin meluas
penyebarannya. Ibu berada di ICU, ditemani adik perempuanku karena aturan dari
Rumah Sakit yang diperbolehkan untuk menemani hanya 1 orang. Akhirnya kami
memutuskan untuk ke tempat penginapan yang sudah dipesan keluarga karena untuk
menaruh barang-barang dan membersihkan diri.
Malam itu pukul 23.30
saturasi oksigen ibu menjadi 10, itu adalah masa kritis ibu. Mendengar kabar
tersebut, aku dan ayah pun bergegas ke rumah sakit saat itu juga sambil
menghubungi keluarga lain. Sampai di Rumah Sakit, kami hanya melakukan video
call dan saling meminta maaf dan mendoakan agar ibu bisa sembuh. Dan saat
itu adik sudah mulai drop kesehatannya, jadi aku yang menggantikan untuk
menemani dan merawat ibu di ICU. Keadaan ibupun berangsur-angsur mengalami
peningkatan dan semangat untuk sembuh, berkat usaha, doa dan dukungan orang
terdekat dan berbagai pihak. Kabar baikpun aku sampaikan ke keluarga apapun itu
keadaannya, dan kami semakin yakin ibu bisa sembuh dan melewati semuanya. Apapun
yang beliau minta berusaha kita penuhi, aku berharap ibu masih membersamaiku
dan keluarga sampai nanti, karena banyak moment yang akan kami lewati bersama
nantinya.
Di hari ke-6 ibu masih
berada di ICU, Alhamdulillaah ibu pun semakin mendekati normal saturasi
oksigennya di angka 96 mmHg, di keadaan orang yang normal dan sehat, saturasi
oksigennya berada direntang 95-100 mmHg. Dengan kondisi Kesehatan yang semakin
drop, aku meminta izin ke ibu untuk beristirahat lebih awal karena demam,
pusing dan mulai lemas. Mungkin karena kurang tidur dan fokus pada kesehatan ibu, namun masih
sering bangun di kala ibu meminta sesuatu. Sebelum aku tidur, ibu meminta
sesuatu padauk, agar aku tidur di samping ranjangnya, namun aku tidak kuat
karena badanku menggigil terkena AC yang suhunya begitu rendah. Aku
beristirahat kurang lebih 3 jam, saat aku bangun ibu sedang tidur, namun ada
sesuatu yang aneh, karena tekanan darah ibu mencapai 260 Pa. aku menunggu ibu
terbangun untuk menanyakan apa yang beliau rasakan, karena temanku yang bekerja
sebagai perawat pernah menyampaikan apabila tekanan darahnya tinggi, sedang
sesak saluran pernafasannya.
Ibu akhirnya terbangun
pukul 3 pagi, dan mengeluh sesak nafasnya. Aku mencoba berkonsultasi dengan
perawat ICU, perawat menyampaikan kalau posisi tidurnya harus diubah sampai ibu
tidak sesak nafas, akupun mencoba satu persatu derajat agar menemukan
kenyamanan untuk ibu. Pelan-pelan mengangkat tubuh ibu hingga ibu berkurang
sesak nafasnya, akhirnya mendapatkan kenyamanan dan berkurang sesak nafasnya.
Adzan pun mulai berkumandang, aku izin untuk melakukan shalat shubuh serta
mengajak beliau, saat aku di kamar mandi, ibu memanggil-manggil namaku, agar
aku cepat kembali. Akupun bergegas ke kamar ICU, dan menanyakan apa yang
terjadi. Beliau menyampaikan tidak apa-apa minta ditemani saja. Mataharipun mulai terbit, ibu meminta padaku
beberapa makanan dan obat yang biasanya beliau minum, namun obatnya belum
diberikan oleh pihak rumah sakit, akupun mencoba memintanya dan akhirnya
diberikan.
Pukul 8 pagi, ibu
merasakan sesak nafas kembali dan aku diminta ibu untuk menemui perawat karena
rasa sesaknya semakin menjadi-jadi. Akupun memenuhi permintaannya hingga 2 kali
aku bolak balik dari ruang kamar ICU ibu ke ruang perawat. Namun, perawat belum
bisa menanganinya, karena sedang keliling ke ruangan lain, aku memahaminya
karena saat itu yang terinfeksi virus ini semakin banyak. Akupun kembali ke
kamar ICU ibu, aku dapati nafasnya yang sudah semakin menipis, dari 78, 53, 48,
32, 23, 18, hingga 0. Kala itu masih ada sedikit detak jantung ibu, aku
mengerti saat itu adalah saat ibu merasakan sakaratul maut, tidak ada yang hal
yang bisa aku lakukan selain menuntunkan kepadanya kalimat-kalimat Allah,
menangis, dan menghubungi keluarga. Hingga pada akhirnya, pendeteksi detak
jantung ibu tidak berupa grafik yang tidak beraturan namun sudah berupa garis
lurus. Dan beberapa menit kemudian, perawat datang memeriksa keadaan ibu,
memang benar adanya itu bukan sebuah mimpi, ibu sudah tiada. Innalillahi
wainna ilaihi raji’un, Aku tidak bisa apa-apa, aku merasa duniaku runtuh
seketika dan kakiku pincang, aku ingin marah karena belum bisa menerima
kenyataan yang terjadi, hanya tangisan yang bisa aku lakukan dan menyegerakan
proses pemakamannya.
Aku bergegas untuk siap-siap
mandi dan membereskan semua barang yang ada. Aku menitipkan kepada perawat
untuk proses pelepasan alat medis hingga proses penyuciannya. Saat itu ayah dan
adik laki-lakiku pun tiba, akupun menangis di pelukan ayah, aku merasa bersalah
karena meninggalkannya saat beliau dalam keadaan sakaratul maut untuk memenuhi
permintaannya. Rasa bersalah itu berlarut-larut hingga hari ke 3 setelah ibu
meninggal. Aku melaksanakan baktiku yang terakhir kalinya untuk ibu dengan
mengikuti semua proses yang ditetapkan sesuai prosedur kesehatan pandemi covid
saat itu, dari proses pemandian, shalat hingga pemakamannya. Di hari yang sama
juga banyak orang yang Allah panggil 5-7 orang dalam rumah sakit tersebut,
begitupun di hasri-hari sebelum dan sesudahnya. Setelah ashar, proses pemakaman
berlangsung dibersamai tenaga kesehatan dengan kondisi jenazah berada di dalam
peti yang terbungkus lapisan plastik, begitupun keadaan jenazahnya, untuk
menghindari tertularnya virus untuk orang-orang sekitar.
Aku sangat terpukul saat
itu, karena belum berbakti kepada kedua orangtuaku. Banyak penyesalan yang aku
rasakan dan banyak hikmah dari kepergian ibu. Sejak saat itu, pemikiranku mulai
berubah, tidak lagi menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk berbakti kepada
kedua orangtua, apalagi saat ini yang tersisa hanya ayah. Saat itu, aku
berjanji kepada diri sendiri untuk lebih berbakti dan merawat ayah bagaimanapun
kondisi dan keadaannya, aku mengusahakan yang terbaik untuk membahagiakannya
dan apapun akan aku lakukan agar aku bisa berbakti kepada ayah meskipun itu
tidak mudah. Saat itu juga, aku mengusahakan untuk pulang berkumpul dengan
keluarga dan merawat ayah selagi Allah masih berikan kesehatan kepada beliau. Aku
yakin sesulit apapun itu, Allah akan menolong orang yang berbakti kepada
orangtuanya. Pulanglah selagi belum terlambat, karena usia kedua orangtuamu
tidak dapat diulang kembali.
Maafkan anakmu ya bu,
belum bisa berbakti kepadamu. Sampai kapanpun aku tidak akan mampu membalas
semua perjuangan ibu sejak aku dalam rahim hingga saat-saat terakhir kehidupan
ibu. Semoga Allah bersamakan ibu dengan orang-orang shalih, mengampuni ibu,
memudahkan hisab ibu kelak. Hanya berbait doa-doaku yang bisa aku berikan
kepada ibu rahimahallah. Terimakasih telah menjadi ibu yang luar biasa,
tidak mampu kuungkapkan dengan kata-kata yang sejatinya tidak akan pernah
membalas jasa-jasa ibu. Aku harap dengan tulisan ini aku bisa abadi mengenang
ibu, seperti kasih sayangmu yang abadi dan tidak lekang oleh waktu. I love you
ibu
Jazaakumullahu khayraan kepada semua pihak yang mendukung
tulisan ini.

Comments
Post a Comment